SEJARAH LAHIRNYA TOK PISIN DAN URGENSI KAMUS TOK PISIN–INDONESIA DALAM MEMFASILITASI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DI PERBATASAN PNG–RI
Keywords:
Tok Pisin, komunikasi lintas budaya, Papua Nugini, kamus bilingual, antropologi linguistikAbstract
Perbedaan bahasa nasional antara Indonesia dan Papua Nugini telah menjadi salah satu hambatan utama dalam membangun komunikasi lintas budaya di wilayah perbatasan kedua negara. Kondisi tersebut berdampak pada hubungan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sistem kekerabatan masyarakat yang pada dasarnya memiliki akar budaya Melanesia yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah lahirnya Tok Pisin sebagai salah satu bahasa nasional Papua Nugini sekaligus lingua franca masyarakat Melanesia, serta menganalisis urgensi penyusunan Kamus Lengkap Tok Pisin–Indonesia sebagai medium komunikasi lintas budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi linguistik dengan metode deskriptif-kualitatif melalui studi pustaka dan analisis historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tok Pisin lahir pada abad ke-19 sebagai akibat dari kolonialisme, eksploitasi tenaga kerja, dan kebutuhan komunikasi di antara kelompok manusia dengan latar budaya dan bahasa yang berbeda. Dalam perkembangannya, Tok Pisin tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol identitas nasional dan perekat sosial masyarakat Papua Nugini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyusunan Kamus Lengkap Tok Pisin–Indonesia memiliki urgensi yang tinggi dalam mendukung komunikasi lintas budaya, memperkuat hubungan sosial masyarakat perbatasan, serta menjadi sarana pendidikan dan pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Papua Nugini.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Yuliana Rumaseb, Ap Octoviaen Geraldus Bidana, Handrianus K. Belolon

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




