HUBUNGAN PREMATURITAS DAN INKOMPABILITAS GOLONGAN DARAH ABO DENGAN KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA PADA NEONATUS DI RS SARI ASIH KARAWACI TANGERANG
Keywords:
hiperbilirubinemia, prematuritas, inkompatibilitas ABO, neonatus, ikterus neonatalAbstract
Latar Belakang: Hiperbilirubinemia merupakan kondisi yang sering terjadi pada neonatus dan dapat menimbulkan komplikasi serius seperti ensefalopati bilirubin dan kernikterus apabila tidak ditangani secara dini. Prematuritas dan inkompatibilitas golongan darah ABO diketahui sebagai faktor risiko utama yang berperan dalam peningkatan kadar bilirubin pada bayi baru lahir. Namun, data lokal mengenai hubungan kedua faktor tersebut dengan kejadian hiperbilirubinemia di RS Sari Asih Karawaci Tangerang masih terbatas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh neonatus yang dirawat di ruang Perinatologi RS Sari Asih Karawaci Tangerang. Sampel dipilih menggunakan teknik consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui telaah rekam medis yang meliputi usia gestasi, status prematuritas, golongan darah ibu dan bayi, serta kadar bilirubin serum. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat untuk menilai hubungan antara prematuritas dan inkompatibilitas golongan darah ABO dengan kejadian hiperbilirubinemia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar neonatus yang mengalami hiperbilirubinemia berasal dari kelompok bayi prematur dan bayi dengan inkompatibilitas golongan darah ABO. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara prematuritas dengan kejadian hiperbilirubinemia serta antara inkompatibilitas golongan darah ABO dengan kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus. Kesimpulan: Prematuritas dan inkompatibilitas golongan darah ABO berhubungan signifikan dengan kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus di RS Sari Asih Karawaci Tangerang. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan pemantauan kadar bilirubin secara ketat pada neonatus berisiko tinggi. Disarankan agar penelitian selanjutnya mengkaji faktor risiko lain dan menggunakan desain longitudinal untuk memperoleh gambaran hubungan kausal yang lebih kuat.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Rika Pujiati, Apriliani Yulianti , Sri Wahyuni

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




